Menguras Air Budikdamber

Alhamdulillah, sampai hari ini, 9 Agustus 2023, tidak ada lagi lele yang menggantung. Tapi, saya masih bertanya-tanya. Apakah lele-lele itu masih hidup atau memang tenggelam di dasar kolam?

Oh iya, saya lupa. 2 hari sebelumnya masih ada yang mati. Setelah saya putar-putar air dengan menggunakan sebatang lidi, baru lele itu muncul ke permukaan. Akhinya, itulah yang membuat saya bertanya-tanya. Masih hidupkah mereka semua?

Mungkin, saya harus kuras air dengan segera. Saya sudah tidak ingat kapan terakhir kali saya menguraskan. Sekarang air itu sudah terasa bau. Namun, ikan-ikan itu nampaknya nyaman dengan keadaan itu.

Kondisi air di sini tidak bagus. Ada banyak kandungan mangan besinya. Nampak bersih, tapi berbekas pada wadah, tembok dan lantai. Itu sepertinya tidak bagus untuk kehidupan ikan. Untuk kebutuhan masak, saya membelinya seharga Rp.3000 per 20 liter. Begitupun untuk air lele. Saya harus mengeluarkan uang untuk menggantinya.

Di sini saya mendapatkan pelajaran, sepertinya bila beternak lele itu harus memperhatikan lingkungan. Yang diutamakan adalah suplai air yang mencukupi. Sehingga, kita dengan mudah dapat mengganti-ganti air. Bagusnya di area pesawahan atau dekat dengan sumber air seperti sungai baik besar maupun kecil. Di perkotaan, agak sulit untuk mendapatkan suplai air yang layak untuk ikan.

Hm, apa lagi yang akan saya tulis? Oh iya, ketika menguras air, dan ember tidak dipasang keran dibawahnya, gunakan selang atau pompa penyedot air. Jangan gunakan gayung. Itu akan membuat ikan stress, Gunakan saja selang atau pompa air.

Dan, jangan lupa. Jangan semua air dibuang. Sisakan mungkin satu pertiga air. Saya belum tahu penjelasannya, tapi sisakan saja. Jangan sampai semuanya benar-benar baru.

Untuk mengisi air yang baru, kucurkan sedikit demi sedikit. Jangan dituangkan langsung. Saya biasanya menggunakan pompa penyedot air. Air yang keluar memang agak sedikit. Namun, itu nampaknya membuat ikan menjadi nyaman.

Untuk sementara, itu catatanku hari ini.

Komentar